“Digital Distraction” Bertempur Dengan Diri Mereka Sendiri

Kontestasi politik makin jelas terlihat dan terang benderang tentang siapa yang terbunuh karakternya sendiri atau, mereka yang sibuk membunuh karakter orang lain dengan segenap gorengan receh yang disebut sebagai “Digital Distraction”. Pola intelijen yang mengarahkan hal-hal yang semestinya disorot harus dilaihkan.

Ya, memang akan ada yang terus dialihkan. Sehingga hal substansial dalam isu kebangsaan lari dari panggung politik. Itu yang ditakutkan bagi mereka yang selama ini numpang makan di lingkaran penguasa. Alur ini semakin terlihat jelas, ketika hal remeh dan plintiran receh yang digaungkan akun-akun gelembung sabun yang memang mereka bertugas menjadi corong propaganda. Isu strategis tentang ketahanan nasional seperti coba dihilangkan.

Ya, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, demokrasi hingga global politik coba dikaburkan. Kebingungan ini yang akan coba dibangun oleh tim petahana, karena indicator ekonomi dan ketahanan pangan yang jelas gagal dengan sederet angka-angka kegagalan. Baik BUMN merugi, naiknya utang luar negeri, Defisit Neraca Perdagangan yang melebar, Defisit Migas, Daya Beli, dan sejumlah hal-hal mengenai kebebasan berpendapat yang dibungkam. Bahkan konyolnya Indonesia menjadi negara terbesar impor gula di dunia.

Sebuah pertanyaan yang akan menohok ketika mengingat ada yang berjanji untuk swasembada. Arah Stigmaisasi yang Pekat. Kebohongan yang berulang melalui lisan dan kebijakan, serta istilah “mencla mencle” dalam membuat keputusan menjadi aib yang telah dipertontonkan kepada rakyat. Untuk itu, “Digital Distraction” mengalihkan hal-hal substansial kemudian lakukan stigma bahwa Prabowo dan Sandi lakukan kebohongan.

Ini jelas pancingan kelas receh meski berkali-kali para operator isu receh ini menelan ludah mereka sendiri. Saya memperhatikan bukan hanya “Digital Distraction”, tetapi kedunguan dalam memahami satire politik. Tempe dan ayam goreng Singapura yang sibuk dicounter akun gelembung sabun. Padahal perkara tempe terkait dengan komoditas kedelai yang melambung sehingga banyak perajin tempe yang teriak. Kemudian perkara “ayam goreng Singapura”, ditelan bulat-bulat bahwa harganya lebih mahal.

Faktanya lebih murah jika diukur dengan pendapatan perkapita rakyat Singapura. Jadi misal harga di Singapura 5 dan di Indonesia 5, namun pendapatan di Singapura 20 sedangkan di Indonesia 10, mana yang menjadikannya lebih murah karena perbedaan pendapatan dan jumlah kebutuhan? Kebingungan Glorifikasi Apapun akan dilakukan untuk sekadar meraih simpati publik.

Namun sesuatu yang berlebihan tentu membuat orang-orang yang memperhatikan akan muak sekali. Sebagai contoh kisah sebuah negeri yang benar-benar dibanjiri dengan polesan media. Semua serba dipoles, apalagi ketika masuk hajatan 5 tahun sekali. Narasi media begitu kental dengan aroma polesan. Mulai dari seakan dekat ulama, sederhana, hadir di pos-pos rakyat, teriak untuk kepentingan kelompok, statistik dan angka pencapaian yang padahal kontra dengan realita. Itu semua benar-benar menyihir.

Namun saat minimnya prestasi, akibat janji yang meleset, maka glorifikasi sangat penting. Janji tidak impor nyatanya impor berbagai komoditas pangan terjadi, janji penegakan hukum kasus pelanggaran berat HAM tak ada kepastian hukum hingga kini. Janji swaembada pangan karena akhirnya keran impor begitu deras tentu kontra dengan janji awal. Janji tidak utang luar negeri, malah porsi utang begitu luar biasa dibanding rezim sebelumnya. Kasus impor garam, impor sapi, kerbau, sampai daging beku jelas kontra dengan janji swasembada.

Hampir lupa, cabai, jagung, singkong, bahkan pacul juga impor. janji-janji seperti buyback indosat, dollar 10.000 kontra dengan realita, bahkan tarif listrik dan janji tidak menaikan BBM pada tahun tertentu juga jadi omong kosong. Maka glorifikasi sangat penting untuk memoles objek yang sebetulnya tidak bersinar dan kehilangan kepercayaan. Hal yang membuat kita muak adalah glorifikasi infrastruktur. Ya, seolah tidak ada infastruktur sebelum sebuah kekuasaan itu menggurita, klaim yang dilakukan di atas batas kewarasan.

Ada beberapa contoh yang sempat beredar luas di media sosial seperti Jembatan Ampera di palembang yang diklaim sebuah akun medsos sebagai prestasi infrastruktur yang dibangun rezim saat ini, Jembatan Kelok Sembilan Sumatera Barat yang diklaim sebagai jalan tol di suka bumi yang dibangun penguasa saat ini, dan bahkan sebuah jalan tol diluar negeri diklaim sebagai jalan tol disebuah daerah di Indonesia, dan berbagai macam klaim lainnya. Seperti kebablasan, menganggap tidak adanya program pembangunan yang berkesinambungan.

Padahal negara tersebut merdeka lebih dari 70 tahun, jadi glorifiasi atau klaim membabi buta sangat fatal akibatnya. Dengan berbagai klaim dan glorifikasi seolah tanpa sosok penguasa sekarang pembangunan itu tidak ada sebelumnya. Tapi hal itu semua dapat dibantah dengan jejak digital dan juga rangkaian program pembangunan sebelumnya. Tidak sampai situ, hal yang paling konyol adalah ketika glorifikasi ini mengalami kekacauan. Label sederhana dipaksa melalui corong media.

Mulai dari sepatu, andong, jalan kaki, kaos, sendal jepit, menginap di hotel murah, minum kopi yang dikondisikan sseolah sederhan namun sangat kontra dengan kebijakan yang tadi disebutkan. Digital Distraction Ya pola pengalihan hal substansial terhadap isu public dan mencoba menutup borok dan kepentingan ini yang didengungkan. Sibuk membunuh karakter Prabowo dan Sandi, karena ada yang sudah terbunuh karakternya sendiri akibat janji-janjinya sendiri.

Mulai janji control impor, nyatanya malah menjadi importir terbesar gula di dunia. Impor beras di saat panen raya, dan terparah adalah hoax Esemka yang menjadi legenda. Mobil dengan teknologi stealth yang hanya bisa dilihat dengan kacamata citra. Tetapi baik kacamata atau mobil belum juga lepas di pasaran secara massal, padahal banyak yang memesan. Oh tidak! Kita bicara industry mobil atau promo kacamata? Kacamata citra.

Sementara, ketika akun gelembung sabun sibuk lakukan “digital distraction”, maka akun power poin lainnya akan lakukan polesan meme dan grafik prestasi dengan rangkaian sudut pandang yang pas. Para pengagum beton yang tidak peduli dengan neraca perdagangan, persentase ekonomi, jumlah utang dalam dan luar negeri, mengenai surat berharga negara yang dilelang dengan bunga tinggi, mengenai deficit migas, dan problem keseimbangan produksi, distribusi, serta konsumsi.

Namun lagi-lagi para pemuja beton menjadikan dirinya sebagai lipstik. Ikut menjadi kosmetik memoles padahal ada fakta lain yang berseberangan dengan materi propaganda.

Lanjut dengan metode “Card stacking” atau tebang pilih. Yaitu, suatu teknik pemilihan fakta dan data untuk membangun kasus di mana yang terlihat hanya satu sisi suatu isu saja, sementara fakta yang lain tidak diperlihatkan. Sebagai contoh infrastruktur yang dijadikan narasi kosmetik, atau bahkan isu radikalisme yang dijadikan hantu terus menerus sepanjang pemerintahan berjalan untuk menutupi masalah lainnya dalam suatu bangsa.

Kemudian dalam teknik propaganda ada istilah Plain folks, yaitu salah satu teknik propaganda yang menggunakan pendekatan yang digunakan oleh seseorang untuk menunjukkan bahwa dirinya rendah hati dan empati dengan penduduk pada umumnya. Sebagai contoh narasi kemeja, harga sepatu, celana, makan di kedai pinggir jalan, kopi harga murah. Gurita media pernah mengulang-ulang narasi itu.

Karena aneka kegagalan maka “Digital Distraction” digunakan untuk menghancutkan karakter lawan dengan isu tak berkelas, karena ada yang sudah terbunuh karakternya sendiri karena janji-janjinya sendiri.

Digital Distraction, “Card stacking” dan “Plain Folks” tadi, akan kembali pada diri mereka sendiri. Sebab struktur yang membusuk itu sudah busuk sekali. Ledakan sosial takkan terbendung. Jangan jadi korban pola seperti ini. Penawarnya adalah data dan jejak rekam video janji seseorang — yang terbunuh karakternya karena janjinya.

In politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it was planned that way. — Franklin D. Rosevelt

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s